Pastikan anda menggunakan browser Chrome atau Mozilla Firefox untuk mendapatkan tampilan dan informasi yang maksimal dari website indbeasiswa.com

INDBeasiswa.com – Masih ingat dengan kisah inspirasi dari teman kita Fauzi Wahyu Zamzami yang berhasil mewujudkan mimpinya ke luar negeri? (Baca: Dari Pondok Pesantren Al-Ittihad Meraih Mimpi ke Luar Negeri). Nah, saat ini kak Fauzi juga ingin membagikan pengalamannya yang berhasil mewujudkan salah satu impian terbesarnya untuk kuliah dengan beasiswa penuh. Semoga dengan cerita inspirasi berikut juga dapat membuat kalian tetap semangat dalam mewujudkan impian.

Perjalanan Meraih Beasiswa Penuh Kuliah S1

Assalamualaikum Wr.Wb.
Hola Guys !!! Perkenalkan nama saya Fauzi Wahyu Zamzami alumni Pondok Pesantren Al – Ittihad yang akan menempuh studi S1 jurusan Hubungan Internasional di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta dengan Beasiswa Mahasiswa Unggulan Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia. Saya ingin berbagi pengalaman kepada kawan – kawan semuanya mengenai arti dari sebuah perjuangan.

Awalnya, saya sama sekali tidak ada impian untuk melanjutkan studi di Indonesia. Makanya seketika SNMPTN, SBMPTN, bisa dikatakan saya tidak benar memilih suatu universitasnya. Karena goal terbesar saya bisa melanjutkan studi di luar negeri tentunya dengan beasiswa. Namun qodarullah saya ditempatkan di salah satu universitas tertua di Indonesia dan dengan beasiswa pula. Diantara goal terbesar saya, ada salah satu goal lagi yang ingin saya capai, yaitu kuliah tanpa dibiayai oleh orang tua. Saya masih inget perkataan ibu saya dalam bahasa sunda “Cik atuh a lamun SMP SMA mayar mah kuliah mah entong” yang dalam bahasa Indonesianya, “Coba lah kalau SMP SMA bayar nanti pas kuliah jangan”. Dari sana muncul suatu motivasi untuk mencari beasiswa baik dalam maupun luar negeri.

Sejak kelas 1 SMA, saya adalah seorang scholarship hunters yang setiap waktu mencari beasiswa baik dalam maupun luar negeri. Sehingga hampir semua beasiswa itu saya hafal, mulai dari persyaratannya, sampai ke hal – hal yang kecil sekalipun. Menginjak kelas 3 SMA saya mulai daftar beasiswa baik dalam maupun luar negeri diantaranya Beasiswa YTB (Turki), Beasiswa President University, Beasiswa Ancora Foundation (Malaysia), Beasiswa Mitsui Bussan (Jepang), Beasiswa Bakrie University, Beasiswa Institut Bisnis di Jakarta, dan lain – lain. Semua dokumen yang mereka butuhkan saya upload dan setelah itu tinggal menunggu hasil. SNMPTN pun saya daftar di Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran serta SPAN PTKIN ke UIN Jakarta.

Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (Sumber: Foto Pribadi)

Setelah menunggu sekian lama akhirnya satu persatu pengumuman pun berdatangan. Dimulai dari Ancora Foundation yang saya lulus seleksi tahap pertama, namun sayangnya hanya sampai tahap ketiga yang artinya gagal mendapatkan beasiswa ini. Rasa sedih dan kecewa pasti ada bagi seorang manusia yang tak memiliki apa-apa namun ketika berhadapan dengan takdir yang telah Allah tentukan apa boleh buat. Rasa positive thinking ini masih melekat dalam diri saya bahwa saya pasti bisa kuliah dengan beasiswa. Keluarlah pengumuman SNMPTN yang menyatakan saya ditolak. Ketika kawan – kawan saya merasa senang diterima di PTN impian mereka namun apalah daya saya yang hanya memandang kertas impian dengan cucuran air mata. Beberapa hari kemudian datanglah pengumuman SPAN PTKIN yang menyatakan saya LOLOS di UIN Jakarta namun dengan jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Rasa senang memang ada namun apabila dinilai hanya 30% dari 100% kesenangan yang ada. Karena impian saya ingin melanjutkan studi dengan jurusan hubungan internasional. Tidak putus asa, akhirnya pengumuman dari President University dan Bakrie University pun ada lalu saya dinyatakan LOLOS. Namun ketika saya lihat ternyata tidak mendapat Beasiswa Full. Dalam artian masih banyak dana yang harus dibayarkan dengan jumlah yang sangat besar. Saya pun mendapatkan Beasiswa Institute Bisnis di Jakarta tetapi bukan jurusan Hubungan Internasional. Akhirnya, rasa bingung itu datang melanda seraya berkata dalam hati apa yang harus saya lakukan?

Ibu saya memberikan semangat supaya saya coba mendaftar jalur tulis UTUL UGM, UIN Jkt, dan Universitas Islam Indonesia. Satu persatu saya jalani. Saat sedang menjalani ujian tulis tersebut, datang pengumuman dari Beasiswa YTB bahwa saya TIDAK LOLOS. Betapa sedihnya hati ini, salah satu negara impian menolak saya begitu saja. Rasa galau pun bertebaran hampir sepanjang hari selama 3 minggu, namun saya sangat berterima kasih kepada orang tua beserta kawan–kawan yang selalu berusaha untuk membangkitkan saya kembali karena mereka mengenal saya adalah orang yang pantang menyerah. UTUL UGM dan UIN Jakarta pun selesai namun tetap saya dinyatakan TIDAK LOLOS.

Selanjutnya saya coba mendaftar Test CBT di Universitas Islam Indonesia sambil berfikir kalau saya gagal kali ini fixed saya tidak akan daftar lagi namun akan lanjut Kursus Bahasa Inggris di Kediri selama 1 tahun. Setelah test CBT selesai dan langsung keluar hasilnya dan Alhamdulillah saya dinyatakan LOLOS. Namun betapa bingungnya saya ketika melihat biaya awal yang harus dibayarkan sebesar 10 Juta beserta Catur Dharma 14 Juta. Dari sana saya senang dan shock juga sebenarnya karena bingung apakah orang tua saya setuju dengan bayaran seperti ini. Mulailah saya mencari beasiswa di web Universitas Islam Indonesia sendiri dan ternyata masih ada batch ke-2 Beasiswa Mahasiswa Unggulan. Sisa tinggal 2 hari lagi, semua perlengkapan saya siapkan mulai dari Essay, TOEFL, dan lain-lain. Ternyata pengumuman pun tidak begitu lama dan saya dinyatakan LOLOS untuk melanjutkan Sesi Wawancara, Ujian Tulis Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Wawancara ini pun terdiri dari 4 sesi yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Psikotes, dan Kepesantrenan. Semuanya dilaksanakan di Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia. Menjelang ospek hari ke-2 barulah pengumuman itu datang. Sesuatu yang membuat saya kagum adalah ketika saya tidur siang dan kebangun begitu saja tanpa ada unsur apapun. Tidak tahu kenapa, saya langsung memegang HP dan melihat whatsapp tiba-tiba sudah tergabung di Grup Santri PP UII Berprestasi. Langsunglah saya menuju websitenya dan melihat hasil pengumumannya dan Alhamdulillah saya LOLOS mendapatkan Beasiswa FULL ini sampai lulus!! Rasa bahagia mulai menghampiri, seketika itu pula saya langsung telepon orang tua saya dan berkata bahwa saya lolos. Orang tua pun sangat senang karena akhirnya saya bisa kuliah tanpa biaya orang tua sedikit pun. Lalu bagaimana dengan uang 10 juta yang telah saya bayar ? Real! Apabila lulus mereka kembalikan lagi uangnya. Suatu kebahagiaan tiada tara yang pernah saya dapatkan ini. Walaupun saat ini gagal untuk melanjutkan studi di luar negeri, namun saya bisa mendapatkan beasiswa di Indonesia dan saya akan mulai merintis untuk bisa ke luar negeri gratis entah dari pertukaran pelajar, konferensi, dan lain-lain.

Kumpul Perdana Para Penerima Beasiswa (Sumber: Foto Pribadi)

Dari pelajaran ini saya dapatkan bahwa memang bermimpilah setinggi langit niscaya engkau akan memeluk mimpi-mimpimu itu. Apabila gagal pun kita akan jatuh dalam bintang-bintang, analoginya ketika saya mempunyai mimpi menjadi seorang Duta Besar Indonesia namun saya gagal pasti saya akan jatuh dalam bintang-bintang seperti menjadi Staf Kedutaan, dan lain-lain. Ketika kalian berani mengawali maka kalian pun harus berani mengakhiri dengan cara menggapainya! Jangan sampai berhenti atau bahkan menyerah karena beberapa kegagalan yang kalian dapat. Bisa jadi sebenarnya selangkah lagi kalian mendapatkan apa yang kalian impikan. So, beranilah bermimpi besar karena mimpi itu gratis dan ingat semua perjuangan kalian akan berakhir pada waktunya. Mengertilah akan arti sebuah kegagalan yang kalian alami karena itu akan menjadi cerita indah ketika kalian dapat menggapainya. Wish You Luck Guys !
Wassalamualaikum Wr.Wb
Please feel free to contact me at
FB : Fauzi Wahyu Zamzami
Email : fauzizamzami97[at]gmail.com
Instagram : @jejakzamzami
Youtube : Jejak Zamzami

Konten disediakan oleh narasumber.


Mari berbagi pengalaman dan cerita mengenai motivasi belajar dan beasiswa yang anda dapatkan kepada saudara-saudara kita yang mungkin belum seberuntung anda. Sesederhana apapun tulisan yang anda tulis bisa menjadi inspirasi untuk saudara-saudara kita di seluruh penjuru tanah air Indonesia.

Kirimkan tulisan ke alamat email: indbeasiswa@gmail.com dalam bentuk softcopy (.doc/.docx) dengan format tulisan sebagai berikut :

1. Nama

2. Alamat e-mail

3. Judul tulisan

4. Isi cerita/pengalaman

5. Foto (jika ada)

Semua tulisan yang terkirim ke INDBeasiswa, akan kami tayangkan maksimal 1 minggu setelah e-mail kami terima. Yuk, manfaatkan kesempatan ini untuk membagikan pengalaman dan cerita kita. Jangan lupa bahwa ilmu dan pengalaman akan lebih bermanfaat jika dibagikan kepada orang lain. 🙂