INDBeasiswa.com – Halo scholarship hunter dimanapun kalian berada! Pada ulasan berikut ini, INDBeasiswa telah mewawancarai kak Mustika, salah satu anak bangsa yang umurnya masih sangat muda, tetapi sudah mempunyai pengalaman mengajar bahasa Indonesia di luar negeri! Tentunya hal ini juga bisa menjadi gambaran bagi kalian yang tengah berkuliah jurusan bahasa untuk mengembangkan diri seperti kak Mustika tersebut. Yuk simak pengalaman kak Mustika berikut ini!

Pengalaman Seru Mengajar Bahasa Indonesia di Luar Negeri!

cerita inspirasi beasiswa bipa pengalaman mengajar di luar negeri
Pengalaman Mengajar Bahasa Indonesia di Luar Negeri dengan Beasiswa BIPA (Image Source)

Halo, perkenalkan nama saya Mustika Nur Amalia. Asal studi S1 Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM), saat ini sedang menempuh S2 Keguruan bahasa di UM dan bekerja sebagai Instruktur BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di BIPA UM. Sebelumnya saya ingin menceritakan secara singkat apa itu Program BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing) yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Program pengiriman guru BIPA ke luar negeri ini adalah program dari PPSDK (Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan) di bawah Kemendikbud yang bertujuan untuk internasionalisasi bahasa Indonesia menuju bahasa Internasional ASEAN. Pengiriman guru Bahasa Indonesia untuk luar negeri ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan internasionalisasi Bahasa Indonesia. Apalagi dengan isu MEA, banyak negara-negara ASEAN yang mulai berminat membuka kelas bahasa Indonesia baik di tingkat Universitas maupun College. Lembaga PPSDK yang dinaungi oleh Kemendikbud ini memfasilitasi permintaan guru bahasa Indonesia dari luar negeri, lalu mengirim guru yang memenuhi kriteria ke lembaga-lembaga yang meminta guru bahasa Indonesia tersebut.

Info Program BIPA ini saya dapat ketika saya mengikuti seminar KIPBIPA9 di Bali. KIPBIPA adalah acara yang diadakan 2 (dua) tahun sekali yaitu konferensi internasional untuk pegiat yang menekuni dunia pengajaran Bahasa Indonesia untuk orang asing di seluruh dunia. Peserta yang hadir beragam ada yang dari Azerbaijan, Rusia, Amerika, Australia, Jerman, dan lain-lain. Pada saat konferensi itu beberapa perwakilan dari PPSDK mengadakan sosialisasi program BIPA untuk pengiriman guru BIPA ke luar negeri. Perlu diketahui, pada tahun 2016 ada setidaknya 88 guru yang dikirim dan tersebar ke berbagai negara seperti di Mesir, Prancis, Jerman, Thailand, Laos, Vietnam, Myanmar, Timor Leste, Kamboja, Singapore, Tiongkok, Jepang, Australia, Amerika, dan sebagainya. Semua biaya dalam mengikuti program BIPA ini ditanggung PPSDK, mulai dari tiket PP (Pulang-Pergi), pengurusan visa, biaya hidup, asuransi perjalanan, dan juga ada beberapa college yang menyediakan akomodasi gratis (asrama gratis atau kos-kosan yang dibiayai college) sebagai bentuk kerja sama.

Nah, untuk mengikuti program ini ada syarat-syarat tertentu yang harus disiapkan, misalnya harus berpengalaman mengajar mahasiswa asing minimal 2 (dua) tahun, mahir berbahasa Inggris, dan punya pengetahuan budaya yang luas. Selain itu kandidat harus memahami benar tentang teori-teori pengajaran bahasa asing dan aplikasinya. Perlu diketahui bahwa orang asing yang belajar bahasa Indonesia itu latar belakangnya beragam dan dari negara yang berbeda-beda, oleh karena itu guru BIPA juga dituntut untuk fleksibel dengan keberagaman pembelajar.

Sebenarnya selain program dari PPSDK ini ada program-program lain seperti FLTA (Foreign Language Teaching Assistant) yang didanai Fulbright, dan LAP (Language Assistant Program) yang diselenggarakan Balai Bahasa Perth Australia. Keduanya sama-sama program mengajar Bahasa Indonesia di Amerika dan Australia. Nah sebelum mengikuti program PPSDK ini, saya gagal mengikuti kedua program itu karena sangat selektif sekali. Kesulitan yang saya hadapi adalah peserta yang mengikuti program PPSDK ini kebanyakan sudah pernah punya pengalaman mengajar bahasa Indonesia di luar negeri dan pengalamannya mengajar BIPA sudah bertahun-tahun, ada juga yang lulusan S2 luar negeri, jadi saingannya berat-berat.  Sementara itu saya hanya lulusan S1 yang tergolong masih baru dan masih muda dan belum punya pengalaman mengajar di luar negeri. Selain itu latar belakang saya dari jurusan bahasa Inggris, sehingga saya harus belajar lagi ilmu-ilmu bahasa Indonesia dari segi tata bahasa, morfologi, dan metodologi pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing yang berbeda dengan mengajar Bahasa Indonesia untuk orang Indonesia. Untungnya, saya mulai mengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing sejak tahun 2014, dan pengalaman itu sudah cukup bagi saya untuk melamar program ini.

Pada program BIPA ini, saya dikirim ke Thailand, mengajar di Udonthani Vocational College. Sebelum berangkat saya tidak bisa bahasa Thailand sama sekali dan tidak ada kewajiban untuk les bahasa Thailand. Saya malah belajar bahasa Thailand ketika sudah ada di Thailand dan dapat kursus gratis dari institusi tempat saya mengajar untuk belajar bahasa Thailand dasar selama 1 bulan.

pengalaman beasiswa bipa mengajar di thailand
Udonthani Vocational College, Thailand (Image Source)

Setibanya di Thailand satu bulan pertama saya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan bahasa baru. Bahasa Inggris tidak populer di Thailand, warga lokal hanya bisa berbahasa Thailand, mau tidak mau terpaksa harus berkomunikasi dengan bahasa Thailand. Saya juga baru tahu kalau di Thailand ternyata masih banyak yang belum mengenal alfabet karena mereka sehari-hari belajar dan menulis menggunakan aksara Thai, jadi harus mengajar mulai dari tingkat alfabet. Padahal saat itu, saya masih baru belajar bahasa Thailand sehingga kosa kata masih sangat terbatas, tetapi justru itu terdapat keseruan tersendiri dan membuat saya lama-lama bisa mengerti maksud siswa, mengajarkan bahasa Indonesia dengan berbagai media dan cara yang paling sederhana :).

Keseruan lainnya adalah setiap kelas karakter siswanya berbeda-beda, jadi treatmentnya tidak sama, nah di sinilah kreatifitas guru diuji bagaimana menyampaikan materi yang sama dengan cara yang berbeda bergantung pada karakteristik kelas itu sendiri. Setiap hari ada tantangan baru dan punya kesempatan mengenalkan Indonesia, karena di tempat saya mengajar kebanyakan mahasiswa belum mengenal Indonesia. Guru dituntut untuk kreatif mengajarkan bahasa dengan cara yang paling simple, sederhana, dan mudah dipahami bagi pembelajar pemula.

Keuntungan yang saya dapat setelah mengikuti program ini ada banyak sekali, salah satunya pengalaman. Pengalaman belajar bertahan hidup di negara yang tidak berbahasa Inggris, mendapat keluarga baru di Thailand dan siswa-siswa yang banyak, mengetahui kebudayaan lokal dan kebiasaan hidup orang-orang Thailand yang memperkaya pengetahuan budaya juga, mendapat teman guru bahasa asing dari berbagai negara seperti Vietnam, China, Filipina, Jerman, Jepang, hingga Kamerun sehingga pergaulan atau link menjadi lebih luas. Punya kesempatan menjadi tamu di acara-acara penting sekolah yang dihadiri pejabat-pejabat Thailand sehingga bisa juga membuka link kerjasama antara Indonesia dan Thailand. Dan yang paling penting, tujuan dari mengajar bahasa Indonesia ini, selain memgajarkan bahasa juga mengajarkan budaya sehingga siswa-siswa di Thailand tertarik untuk mengenal Indonesia, datang ke Indonesia untuk wisata atau melanjutkan sekolah di Indonesia.
Awal saya menekuni dunia BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) adalah kecelakaan dan saya tidak pernah berpikir sebelumnya untuk terjun menjadi guru. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan menekuni bidang ini dengan sungguh-sungguh akan selalu ada jalan untuk meraih kesuksesan. Dan sebenarnya profesi saya ini belum banyak orang yang tahu, bahkan cenderung diremehkan. Buat apa belajar Bahasa Indonesia (siswa-siswa Indonesia biasanya berpikir seperti ini)? Padahal sebenarnya banyak Mahasiswa Asing yang sangat antusias, sungguh-sungguh dan berminat untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Bahkan peminat pembelajar bahasa Indonesia di luar negeri meningkat setiap tahunnya. Kita perlu bangga dong punya Bahasa Indonesia.

Sebelum mendaftar program ini, saya sempat gagal mendaftar program-program lain beberapa kali, tetapi kegagalan adalah bagian dari proses, yang penting tetap gigih berjuang. Jadi… buat teman-teman atau pembaca jangan pernah takut gagal, kecewa karena gagal boleh, tapi segera move on ya. Sekian, terima kasih. 🙂

Note: Penawaran Program SAME BIPA dan Seni untuk Tahun 2017 saat ini sedang dibuka hingga tanggal 12 Mei 2017 mendatang. Informasi lebih detail silakan merujuk pada link berikut: sumberdaya.ristekdikti.go.id.

Konten disediakan oleh narasumber.

Mari berbagi pengalaman dan cerita mengenai motivasi belajar dan beasiswa yang anda dapatkan kepada saudara-saudara kita yang mungkin belum seberuntung anda. Sesederhana apapun tulisan yang anda tulis bisa menjadi inspirasi untuk saudara-saudara kita di seluruh penjuru tanah air Indonesia.
Kirimkan tulisan dalam bentuk softcopy (.doc/.docx) dengan format tulisan sebagai berikut :
1. Nama
2. Alamat e-mail
3. Judul tulisan
4. Isi cerita/pengalaman
5. Foto (jika ada)
dan dikirimkan via email ke : indbeasiswa@gmail.com.
Semua tulisan yang terkirim ke INDBeasiswa, akan kami tayangkan maksimal 1 minggu setelah e-mail kami terima. Yuk, manfaatkan kesempatan ini untuk membagikan pengalaman dan cerita kita. Jangan lupa bahwa ilmu dan pengalaman akan lebih bermanfaat jika dibagikan kepada orang lain. 🙂