INDBeasiswa.com – Seperti yang kita ketahui pendidikan di Finlandia merupakan yang terbaik di dunia bahkan mengalahkan negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Jerman, Inggris, Australia dan Amerika Serikat. Meski di Indonesia gaung negara bagian Scandinavia ini kurang begitu populer tapi harus diakui riset pendidkan terbaik dunia datang dari negara beribukota Helsinki tersebut. Tidak hanya itu game Angry Bird, Nokia dan F1 juga lahir dari negara berpenduduk kurang dari 6 juta jiwa ini. Gimana keren banget kan negara yang satu ini untuk kamu jadikan destinasi kuliah ke luar negeri? Untuk memberikan pandangan kehidupan kuliah di Finlandia, berikut adalah pengalaman kuliah dari Karina Angelika yang kami tulis kembali dari Indonesiamengglobal.com.

Pengalaman Kuliah di Finlandia

Pengalaman Kuliah di Finlandia
Kuliah di Finlandia, Pengalaman yang tak akan Terlupakan


Setelah menyelesaikan studi S1 di Lasalle College of the Arts, Singapura, Saya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi guru seni. Selama dua setengah tahun lamanya, saya mengabdikan diri menjadi pengajar di sebuah private art studio yang juga berada di Singapura. Namun selama itu juga, belum ada jawaban yang pas untuk sejumlah pertanyaan dalam benak saya. hingga akhirnya saya memutuskan kembali ke bangku kuliah.

Awalnya saya memutuskan Inggris sebagai destinasi kuliah S2 saya. Keputusan tersebut saya ambil karna guru-guru saya kebanyakan berasal dari Australia dan Inggris. Namun setelah berdiskusi dengan mereka, saya dianjurkan untuk berangkat ke Finlandia. Lucunya lagi seminggu setelah diskusi tersebut muncul artikel di koran langganan kalau pendidikan di Finlandia adalah yang terbaik di dunia. Hati saya pun makin mantab setelah melihat artikel tersebut.

Mengurus persiapan kuliah di Finlandia cukup ribet karna belum adanya agen pendidikan yang bisa membantu, tapi semua itu tidaklah menjadi penghalang. Saya pun mengurus kelengkapan dokumen yang dibutuhkan mulai dari TOFL/IELTS, Surat Rekomendasi, Attendance Letter, Ijazah yang sudah dilegasir dan beragam dokumen lainnya. Begitu diterima oleh Aalto University dan mendapat surat penerimaan, saya langsung mengurus visa dan juga tempat tinggal. Untuk tempat tinggal saya menggunakan jalur HOAS (housing yang disubsidi oleh pemerintah Finlandia) dan ternyata peminatnya sangat banyak. Selain HOAS, informasi tempat tinggal juga bisa kita dapatkan dari Grup Facebook. Untuk informasi persiapan yang lebih lengkap bisa menghubungi PPI Finlandia.

Kisaran biaya hidup per bulan di Finlandia termasuk tinggi bisa mencapai € 700-800. Kalau dirinci € 200-300 untuk tempat tinggal dari HOAS, € 250 untuk biaya ponsel, groceries dan makanan, € 50 untuk transportasi umum, lalu sisanya ditabung untuk keperluan emergency. Meski begitu pelajar internasional diperbolehkan untuk bekerja paruh waktu dan upah yang diberikan cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Oh iya, tempat tinggal yang saya tempati memiliki dapur dan kamar mandi yang harus share dengan pengguna lainnya, ada 2 sampai 3 orang. Tidak hanya itu, karna saya pelajar yang belum berusia 30 tahun maka saya banyak mendapatkan potongan harga, seperti tiket masuk ke museum, tiket transportasi dan diskon makan di kantin sebesar € 2,6 per porsi.

Nordic Visual Studies and Art Education (NoVA) merupakan program studi yang saya ambil dan saya adalah orang Asia satu-satunya di NOVA. Lebih uniknya kolega saya di jurusan ini sangat beragam, mulai dari lulusan Aalto di Finlandia, Aalborg University di Denmark, Høgskolen i Oslo og Akershus di Norwegia, dan Konstfack University di Swedia. Tiap semester kami berkumpul dan menghadiri kelas bersama kemudian di follow-up dengan online class. Lalu ada juga pertukaran pelajar ke universitas di negara Nordic lainnya selama satu semester untuk memperluas wawasan dan minat. Pertukaran ini diwajibkan karna tiap universitas memiliki keunggulannya sendiri. Diskusi di kelas juga menjadi kaya karna pelajarnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Format kelasnya tidak jauh berbeda dengan negara Eropa lainnya karna menggunakan sistem ECTS, dimana ada kelas pilihan sendiri dan beberapa kelas wajib yang harus kita ikuti. Programnya sangat mengedepankan riset, diskusi, presentasi, kehadiran dan juga tugas tertulis baik individu atau kelompok. Pokoknya kebebasan dalam belajar adalah nomor satu di Finlandia. Selain itu tidak ada yang namanya sistem ujian akhir atau pass/ fail.

Kemudian ada banyak sekali seminar crossdiciplinary yang bisa kita ikuti. Dalam seminar itu kita bisa tahu hubungan antara satu disiplin ilmu dengan ilmu lainnya. Saya sendiri pernah mengikuti seminar yang menghubungkan seni dengan nutrisi, bioteknologi dan matematika. Kalau dibandingkan dengan sistem pendidikan yang saya dapatkan di Indonesia dan Singapura ternyata masih kaku dan memiliki sekat yang cukup kuat antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.

Tamasya ke Naantali Turku oleh Karina Angelika
Tamasya ke Naantali Turku oleh Karina Angelika (Image Source)

Setelah merasakan pendidikan yang cukup lama di Finlandia dan juga pertukaran pelajar selama satu semester di Oslo. Harus saya akui bahwa kualitas pendidikan di negara Nordic sangat bagus. Dosen yang ada sangat berkualitas dan berdedikasi tinggi serta mau menerima masukan, bahkan pihak kampus tidak segan menanggung biaya tempat tinggal juga penerbangan jika saya harus mengikuti simposium di luar negeri atau kota.

Sekedar informasi terhitung dari Agustus 2017, Pemerintah Finlandia tidak lagi menggratiskan pendidikan bagi pelajar Non-EU/EEA yang ingin melanjutjan pendidikan S1 dan S2. Biaya dikenakan € 5.000-20.000 per tahun tergantung dari program studi dan universitas yang akan diambil. Sedangkan untuk S3 belum ada wacana tarif biaya.

Demikian cerita dari Karina Angelika, semoga bisa menginspirasi kita semua untuk selalu semangat dan gigih menggapai mimpi yang kita harapkan, termasuk kuliah ke luar negeri. Semoga bermanfaat.