Pastikan anda menggunakan browser Chrome atau Mozilla Firefox untuk mendapatkan tampilan dan informasi yang maksimal dari website indbeasiswa.com

bagaimana cara kuliah ke luar negeri dengan mudah melalui program exchange atau pertukaran mahasiswa

INDBeasiswa.com – Bisakah kuliah ke luar negeri dengan cara mudah? Jawabannya bisa! Pada masing-masing universitas di Indonesia biasanya mempunyai Program Pertukaran Mahasiswa atau Exchange Program. Ada banyak destinasi universitas luar negeri yang ditawarkan dari setiap kampus, dan tentunya berbeda kampus maka akan berbeda juga destinasinya, tergantung dengan MOU yang dijalani.

Pada cerita inspirasi kali ini, seorang teman kita bernama Kak Maulida akan berbagi pengalamannya saat mengikuti Exchange Program di Vienna, Austria. Semoga dengan pengalaman yang dibagikan ini dapat memberikan gambaran bagi kalian mengenai Exchange Program serta menjadi motivasi untuk mewujudkan mimpi kuliah di luar negeri.

 

Cerita Inspirasi: Kuliah di Luar Negeri dengan Jalur Exchange Program

exchange program kuliah luar negeri dengan mudah
Pengalaman Kuliah di Luar Negeri dengan Exchange Program

Halo namaku Maulida Kusumaningsari, tapi temen-temen biasa memanggil Moli. Aku lahir dan besar di desa Tosari, di kaki gunung Bromo, Jawa Timur. Kuliah S1 dan S2 semua di UGM, Jogja. Sekarang lagi kuliah S2 di Magister Management UGM dengan majornya General Management di International Class.

Kelas Internasional (International Class) itu apa? Kelas Internasional merupakan salah satu program yang ditawarkan oleh universitas dengan bahasa pengantar pembelajaran menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan pembelajarannya tentu berbeda dengan program perkuliahan reguler. Keuntungan mengikuti Kelas Internasional  yaitu bisa mendapatkan pengalaman pendidikan di luar negeri serta mendapatkan pengakuan internasional. Di MM UGM, kalau kamu berada di kelas internasional, kamu akan diwajibkan untuk mengikuti kegiatan internasional juga. Pilihannya bisa Double Degree, Exchange Semester, Summer School, Field Trip, atau Kompetisi Internasional. Nah disini aku pilih program Exchange Semester.


Perlu diketahui sebelumnya, di MM UGM sistem studinya antara satu sampai dua semester sebelum semester abroad, para mahasiswa harus memilih mau ditempatkan dimana untuk program Exchangenya. MM UGM sendiri memiliki universitas partner di luar negeri, dan salah satunya ada di Austria. Aku memilih di Vienna University of Economics and Business atau biasa disingkat WU. Kalau di WU, kuotanya adalah 3 mahasiswa per tahun untuk program Exchange. Untuk melihat daftar partner universitas dari MM UGM bisa dilihat pada link berikut: Partner Universities.


Untuk mengikuti Program Exchange dibutuhkan beberapa dokumen seperti Transkrip Nilai dua semester terakhir, Motivation Letter yang akan dikirimkan ke universitas partner, serta Curriculum Vitae. Sebagian besar universitas partner dari MM UGM sudah tidak meminta sertifikat TOEFL atau IELTS bagi mahasiswa yang mengikuti Kelas Internasional. Tetapi ada beberapa universitas partner yang masih meminta lagi dengan standar berbeda atau bahkan lebih tinggi. Sebagai informasi, standar TOEFL masuk Kelas Internasional MM untuk 2 tahun lalu (2014) adalah 525. Kemudian untuk proses seleksi Program Exchange akan dilaksanakan oleh Board of Directors (BOD) MM UGM dibantu oleh Office of International Affairs.


Kalau ditanya mengapa memilih WU Vienna, pertama karena WU sudah mendapatkan akreditas baik dari Lembaga Akreditasi Eropa maupun Internasional dan memiliki ranking yang bagus. Selain itu aku juga dapat testimoni dari kakak angkatan yang sudah pernah kesana, bahwa WU bagus dalam melayani mahasiswa Program Exchange. Kedua, mata kuliah yang aku butuhkan disediakan oleh WU Vienna. Ketersediaan mata kuliah itu sangat penting, karena nilai yang kamu dapat di Exchange Semester akan dicetak pada transkrip yang tentunya berpengaruh ke IPK. Ketiga, karena lokasinya yang terletak di Vienna. Vienna sendiri termasuk dalam Top 10 Cities Not To Be Missed on 2015 Based on Lonely Planet. Dan karena Austria terletak di central Europe akan membuat kamu mudah travelling kemana saja.

pertukaran mahasiswa ke austria wu vienna
kuliah ke luar negeri austria vienna

Beberapa foto di atas adalah foto-foto kampus WU dengan gedung kampusnya yang baru. Desainnya modern dan sophisticated. Haha sampai-sampai turis-turis kalau ke Vienna jadi berkunjung ke kampus WU juga.

Sebagian besar universitas di Eropa sudah mempunyai fasilitas yang Hi-Tech banget. Pinjam buku di perpustakaan tinggal scan barcode sendiri tanpa ada petugas yang ngurusin peminjaman buku (di UGM juga sebenernya bisa sih haha). Selain itu tersedia juga fasilitas ruang belajar bahasa. Jadi di labnya ada komputer yang isinya film-film dari mana saja yang berbeda-beda bahasa untuk kita belajar bahasa lain. Nantinya selama masa study, ada juga namanya Program Tandem Learning, misalnya aku pengen belajar bahasa Jepang, nanti aku dipasangin sama mahasiswa dari Jepang yang mungkin mau belajar bahasa Indonesia juga. Nah kita bisa memakai ruang belajar bahasa tadi dengan bebas.


Di WU Vienna sudah tersedia minimarket, bakery, coffee shops, kantin, dan restoran. Jadi kalau kamu mau belajar sampai malam nggak perlu khawatir nyari makan. Ruang belajarnya pun banyak banget. Mulai dari ruang terbuka sampai ruangan-ruangan kecil buat kerja kelompok yang bisa dipesan secara online. Di MM UGM juga ada kok ruang diskusi seperti itu, jadi nggak jauh beda juga.


Untuk style mengajar para dosen, memang di luar negeri dosennya lebih mendorong mahasiswa untuk aktif dan kritis. Mereka akan ngasih banyak kesempatan untuk kita yang aktif, misalnya dengan diskusi dan prestasi. Hal ini juga sudah diterapkan sama UGM, khususnya MM UGM. Satu hal disana kita nggak boleh gaptek, karena untuk materi atau bahan ajar sudah tersedia pada inline platform yang menghubungkan antara mahasiswa dan dosen.  Jadi pada platform tersebut kita bisa meng-upload tugas, download materi dosen, atau melihat nilai. Dan yang lebih asyiknya lagi, di Eropa ada yang namanya Eduroam. Jadi kalau kita punya student ID di universitas Eropa, ID tersebut bisa kita pakai untuk terhubung ke Wifi di universitas mana saja di Eropa.


Untuk bahasa yang digunakan selama proses perkuliahan adalah bahasa Inggris. Sebetulnya selama disana aku ditawari untuk mengambil kelas bahasa Jerman, tapi nggak aku ambil. Sempat nyesel juga karena nggak belajar bahasanya, karena kupikir kebanyakan orang di Vienna menggunakan bahasa Inggris. Tapi setelah pulang di Indonesia ini baru kerasa nyeselnya. Jadi sekalian pesen buat teman-teman, kemanapun kita pergi, kalau bisa pelajarilah bahasa di tempat tersebut sedikit-sedikit. Haha..


Soal adaptasi terutama cuaca agak susah juga karena aku kesana waktu winter semester. Haha awalnya kupikir bakal sering sakit tapi alhamdulillah enggak. Mungkin karena udara, air, dan makanan lebih bersih dan juga disana aku kebiasaan jalan jadi badan lebih banyak bergerak. Yang penting jangan lupa olahraga saja untuk jaga stamina saat di luar negeri.


Kalau untuk kehidupan sosial selama di WU Vienna justru sangat asyik. Karena kita sekelas dengan teman-teman yang tergabung dalam Exchange Semester juga, jadi isinya semua mahasiswa internasional yang tentunya pada nyari temen juga. Di WU sendiri terdapat sekitar 500 mahasiswa Exchange tiap semesternya dan secara rutin diadakan program student buddy serta event-event lainnya buat mahasiswa internasional sehingga kita mudah bergaulnya.


Memang kita tahu sendiri, kebanyakan orang-orang barat suka party, dan cara paling mudah bergaul dengan mereka adalah hang out bareng ke bar. Tetapi di Vienna sendiri, budaya ke cafe untuk minum kopi itu sudah tradisi dari jaman dulu, jadi jangan heran jika banyak coffee shop lucu-lucu. Nah karena ke club atau ke bar bukan budaya kita, kita bisa beradaptasi bergaul dengan mereka ke coffee shop yang beraneka ragam tersebut. Tips buat adaptasi intinya be open minded. Jangan terlalu idealis. Coba untuk open ke perbedaan budaya. Selama kita masih bisa memegang teguh kebudayaan kita, nggak ada salahnya juga untuk belajar budaya lain. Tiap negara di Eropa saja bisa beda banget budayanya dalam pergaulan. Dan juga, kita nggak bakal kok jadi lupa sama budaya kita sendiri. Yang ada malah justru kita lebih menghargai kebudayaan kita sendiri seperti kita menghargai milik mereka.


Satu hal yang berkesan tentunya dapat beasiswa. Beberapa universitas partner di MM UGM juga nawarin beasiswa. Jadi nggak usah khawatir soal biaya, kalian bisa pilih mana yang bisa ngasih bantuan dana. Dan kalau kita sedang study di negara lain, jangan cuma belajar, tetapi atur waktu dan keuangan biar bisa berkunjung ke tempat-tempat lain. As I said before, travelling itu memberikan pelajaran yang unik buat kita dan hal tersebut juga nggak kalah penting dengan ilmu yang kita dapatkan saat belajar di kelas. Tapi jangan lupa juga, tujuan utama disana buat belajar tetap jadi nomer satu. Alhamdulillah, waktu disana aku bisa berkunjung juga ke beberapa negara lain. Jadi bisa belajar tentang negara lain sekaligus belajar melatih keberanian dan kemandirian kita.


Pesanku buat teman-teman semua, seperti kata Walt Disney “If You Can Dream It, You Can Do It”. Jadi jangan lupa buat bermimpi dan jangan malas mencoba. Setiap ada kesempatan, dicoba saja. Kalau ingin ke luar negeri dengan jalur mudah, masuk saja ke universitas di Indonesia yang memiliki banyak partner universitas luar negeri, karena jalannya memang benar dimudahkan. Selain itu banyak terbuka kesempatan beasiswa disitu. Thanks juga untuk team INDBeasiswa karena sudah dipercaya untuk menjadi narasumber. Sukses buat teman-teman di INDBeasiswa. Have a nice day 🙂